salju

animasi

Selasa, 29 Mei 2012


TUGAS AKHIR MEDIA PEMBELAJARAN
RANCANGAN MEDIA PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN VIDEO DENGAN METODE ASSURE

Dosen Pembina :
Dr. Indrati Kusumaningrum, M.Pd


(Salah Satu Tugas Akhir Pada Mata Kuliah Media Pembelajaran)










Oleh:
Ratna Sari
1103989







PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2012


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Teori Belajar
Belajar adalah perubahan tingkah laku dari tidak tahu menjadi tahu,sehingga banyak hal yang bisa dilakukan untuk mencapi tujuan yang diinginkan. Pada mas sekarang ini banyak teori yang bisa mendukung pembelajaran. Salaha satunya toei yang dikemukakan oleh Asubel.
Belajar menurut Ausubel dapat diklasifikasikan menjadi 2 dimensi. Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran yang disajikan kepada siswa melalui penerimaan atau penemuan. Dimensi kedua menyangkut cara bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada. Struktur kognitif ialah fakta, konsep dan generalisasi yang telah dipelajari dan diingat oleh siswa.
Teori Ausubel tentang belajar adalah belajar bermakna. Bagi Ausubel belajar bermakna merupakan suatu proses dikaitkannnya informasi baru pada konsep-konsep yang relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang.  Prasyarat belajar bermakna adalah sebagai berikut:
1.      Materi yang dipelajari harus bermakna secara potensial
2.      Anak yang akan belajar atau siswa harus bertujuan untuk melaksanakan belajar bermakna, jadi mempunyai kesiapan dan mempunyai niat untuk belajar bermakna. Tujuan siswa merupakan faktor utama dalam belajar bermakna. Banyak siswa mengikuti pelajaran-pelajaran yang kelihatannya tidakrelevan dengan kebutuhan mereka saat itu.
Untuk menerapkan teori Ausubel dalam mengajar, sebaiknya kita perhatikan yang dikemukakan oleh Ausubel dalam bukunya yang berjudul Educational Psychology: A cognitive View, pernyataan itu berbunyi:
The most important single factor influencing learning is what the learner alrady knows. Ascertain this and teach him accordingly.” (Ausubel, 1968)
Atau yang berarti sebagai berikut:
faktor terpenting yang mempengaruhi belajar ialah apa yang telah diketahui siswa. Yakinilah hal ini  dan ajarlah ia demikian.”
Pernyataan Ausubel inilah yang menjadi inti teori belajarnya. Jadi agar terjadi teori bermakna, konsep baru atau infrmasi baru harus dikaitkan dengan konsep-konsep yang telah ada dalam struktur kognitif siswa.
B.     Media Pembelajaran
Dalam pembelajaran kita tidak pernah terlepas dari kata media.media dalam bentuk jamak adalah perantara (medium). Berasal dari bahas latin medium (“antara”), istilah ini merujuk pada apa saja yang membawa informasi antara sebuah sumber dan sebuah penerima. Enam kategori dasr media adalah:
1.      Teks
2.      Audio
3.      Visual
4.      Video
5.      Perekayasa (manipulative)/benda-benda
6.      Orang-orang
Tujuan dari media adalah untuk memudahkan komunikasi dan belajar. Ketika memilih format media, situasi atau keadaan pengajaran (misalnya kelompok besar, kelompok kecil atau pengajaran sendiri), variabel pemelajar (misalnya, pembaca, bukan pembaca, atau lebih suka mendengar), dan sifat tujuan (misalnya, kognitif, afektif, kemampuan motorik, atau antarpersonal) harus diperhatikan. Juga perlu diperhatikan kemampuan menyajikan dari tiap-tiap format media (misalnya, visual diam, visual bergerak, kata-kata bercetak, atau kata-kata yang disuarakan).
Kata media berasal dari kata medium yang secara harfiah artinya perantara atau pengantar. Banyak pakar tentang media pembelajaran yang memberikan batasan tentang pengertian media. Menurut EACT yang dikutip oleh Rohani (1997 : 2) “media adalah segala bentuk yang dipergunakan untuk proses penyaluran informasi”. Sedangkan pengertian media menurut Djamarah (1995 : 136) adalah “media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai Tujuan pembelajaran”.
Selanjutnya ditegaskan oleh Purnamawati dan Eldarni (2001 : 4) yaitu “media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sedemikian rupa sehingga terjadi proses belajar”.
C.    MEDIA PEMBELAJARAN
1.      Jenis – jenis Media pembelajaran
Banyak sekali jenis media yang sudah dikenal dan digunakan dalam penyampaian informasi dan pesan-pesan pembelajaran. Setiap jenis atau bagian dapat pula dikelompokkan sesuai dengan karakteristik dan sifat-sifat media tersebut. Sampai saat ini belum ada kesepakatan yang baku dalam mengelompokkan media. Jadi banyak tenaga ahli mengelompokkan atau membuat klasifikasi media akan tergantung dari sudut mana mereka memandang dan menilai media tersebut.
Penggolongan media pembelajaran menurut Gerlach dan Ely yang dikutip oleh Rohani (1997 : 16) yaitu :
1.      Gambar diam, baik dalam bentuk teks, bulletin, papan display, slide, film strip, atau overhead proyektor.
2.       Gambar gerak, baik hitam putih, berwarna, baik yang bersuara maupun yang tidak bersuara.
3.      Rekaman bersuara baik dalam kaset maupun piringan hitam.
4.      Televisi
5.      Benda – benda hidup, simulasi maupun model.
6.      Instruksional berprograma ataupun CAI (Computer Assisten Instruction).
Penggolongan media yang lain, jika dilihat dari berbagai sudut pandang adalah sebagai berikut :
1.      Dilihat dari jenisnya media dapat digolongkan menjadi media Audio, media Visual dan media Audio Visual.
2.      Dilihat dari daya liputnya media dapat digolongkan menjadi media dengan daya liput luas dan serentak, media dengan daya liput yang terbatas dengan ruang dan tempat dan media pengajaran individual.
3.      Dilihat dari bahan pembuatannya media dapat digolongkan menjadi media sederhana (murah dan mudah memperolehnya) dan media komplek.
4.      Dilihat dari bentuknya media dapat digolongkan menjadi media grafis (dua dimensi), media tiga dimensi, dan media elektronik.

2.      Manfaat media pembelajaran
Media pembelajaran sebagai alat bantu dalam proses belajar dan pembelajaran adalah suatu kenyataan yang tidak bisa kita pungkiri keberadaannya. Karena memang gurulah yang menghendaki untuk memudahkan tugasnya dalam menyampaikan pesan – pesan atau materi pembelajaran kepada siswanya. Guru sadar bahwa tanpa bantuan media, maka materi pembelajaran sukar untuk dicerna dan dipahami oleh siswa, terutama materi pembelajaran yang rumit dan komplek.
Setiap materi pembelajaran mempunyai tingkat kesukaran yang bervariasi. Pada satu sisi ada bahan pembelajaran yang tidak memerlukan media pembelajaran, tetapi dilain sisi ada bahan pembelajaran yang memerlukan media pembelajaran. Materi pembelajaran yang mempunyai tingkat kesukaran tinggi tentu sukar dipahami oleh siswa, apalagi oleh siswa yang kurang menyukai materi pembelajaran yang disampaikan.
Secara umum manfaat media pembelajaran menurut Harjanto (1997 : 245) adalah : (a) Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu verbalistis ( tahu kata – katanya, tetapi tidak tahu maksudnya), (b) Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera, (c) Dengan menggunakan media pembelajaran yang tepat dan bervariasi dapat diatasi sikap pasif siswa, (d) Dapat menimbulkan persepsi yang sama terhadap suatu masalah.
Selanjutnya menurut Purnamawati dan Eldarni (2001 : 4) yaitu : (a) Membuat konkrit konsep yang abstrak, misalnya untuk menjelaskan peredaran darah, (b) Membawa obyek yang berbahaya atau sukar didapat di dalam lingkungan belajar, (c) Manampilkan obyek yang terlalu besar, misalnya pasar, candi, (d) Menampilkan obyek yang tidak dapat diamati dengan mata telanjang, (e) Memperlihatkan gerakan yang terlalu cepat, (f) Memungkinkan siswa dapat berinteraksi langsung dengan lingkungannya, (g) Membangkitkan motivasi belajar, (h) Memberi kesan perhatian individu untuk seluruh anggota kelompok belajar, (i) Menyajikan informasi belajar secara konsisten dan dapat diulang maupun disimpan menurut kebutuhan, (j) Menyajikan informasi belajar secara serempak (mengatasi waktu dan ruang), (k) Mengontrol arah maupun kecepatan belajar siswa.

3.      Prinsip – prinsip memilih media pembelajaran
Setiap media pembelajaran memiliki keunggulan masing – masing, maka dari itulah guru diharapkan dapat memilih media yang sesuai dengan kebutuhan atau tujuan pembelajaran. Dengan harapan bahwa penggunaan media akan mempercepat dan mempermudah pencapaian tujuan pembelajaran.
Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pemilihan media pembelajaran, yaitu :
a.       Harus adanya kejelasan tentang maksud dan tujuan pemilihan media pembelajaran. Apakah pemilihan media itu untuk pembelajaran, untuk informasi yang bersifat umum, ataukah sekedar hiburan saja mengisi waktu kosong. Lebih khusus lagi, apakah untuk pembelajaran kelompok atau individu, apakah sasarannya siswa TK, SD, SLTP, SMU, atau siswa pada Sekolah Dasar Luar Biasa, masyarakat pedesaan ataukah masyarakat perkotaan. Dapat pula tujuan tersebut akan menyangkut perbedaan warna, gerak atau suara. Misalnya proses kimia (farmasi), atau pembelajaran pembedahan (kedokteran).
b.       Karakteristik Media Pembelajaran. Setiap media pembelajaran mempunyai karakteristik tertentu, baik dilihat dari keunggulannya, cara pembuatan maupun cara penggunaannya. Memahami karakteristik media pembelajaran merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki guru dalam kaitannya pemilihan media pembelajaran. Disamping itu memberikan kemungkinan pada guru untuk menggunakan berbagai media pembelajaran secara bervariasi.
c.       Alternatif Pilihan, yaitu adanya sejumlah media yang dapat dibandingkan atau dikompetisikan. Dengan demikian guru bisa menentukan pilihan media pembelajaran mana yang akan dipilih, jika terdapat beberapa media yang dapat dibandingkan.
Selain yang telah penulis sampaikan di atas, prinsip pemilihan media pembelajaran menurut Harjanto (1997 : 238) yaitu: Tujuan, Keterpaduan (validitas), keadaan peserta didik, ketersediaan mutu teknis, dan biaya. Selanjutnya yang perlu kita ingat bersama bahwa tidak ada satu mediapun yang sifatnya bisa menjelaskan semua permasalahan atau materi pembelajaran secara tuntas.
















BAB II
MODEL PEMBELAJARAN ASSURE

A.    Model Assure
ASSURE model merupakan suatu rujukan bagi pendidik dalam membelajarkan peserta didik dalam pembelajaran yang direncanakan dan disusun secara sistematis dengan mengintegrasikan teknologi dan media sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif dan  bermakna bagi peserta didik (Smaldino,dkk.,2008:87). Pembelajaran dengan menggunakan ASSURE Model mempunyai beberapa tahapan yang dapat membantu terwujudnya pembelajaran yang efektif dan bermakan bagi peserta didik. Tahapan tersebut menurut Smaldino merupakan penjabaran dari ASSURE Model, adalah sebagai berikut :
1.      Analyze Learner  (Analisis Pembelajar)
Tahapan pertama dalam merencanakan pembelajaran yang mempu membentuk pengalaman siswa adalah mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik pembelajar yang menunjukkan relasi dengan outcome dalam pembelajaran. Tujuan utama dalam menganalisa termasuk pendidik dapat menemui kebutuhan belajar siswa yang urgen sehingga mereka mampu mendapatkan tingkatan pengetahuan dalam pembelajaran secara maksimal. Analisis pembelajar meliputi tiga faktor kunci dari diri pembelajar yang meliputi :
a.       General Characteristics (Karakteristik umum)
Karakteristik umum siswa dapat ditemukan melalui variable yang konstan, seperti, jenis kelamin, umur, tingkat perkembangan, budaya dan faktor sosial ekonomi serta etnik. Etnik disini termasuk dalam faktor samping dalam karakteristik umum atau dapat disebut karakteristik khusus pembelajar, seperti tingkah laku dan ketertarikan terhadap suatu pembelajaran. Perbedaan umur pada peserta didik dapat menjadi acuan dalam merancang pembelajaran yang memperhatikan kemampuan setiap individu selama proses pembelajaran. Begitu pula jika menemui perbedaan budaya asal pembelajar dapat menjadi patokan dalam merumuskan strategi dan media yang tepat dalam menyampaikan bahan pelajaran.
b.      Specific Entry Competencies ( mendiagnosis kemampuan awal pembelajar)
Penelitian yang terbaru menunjukkan bahwa pengetahuan awal siswa merupakan sebuah subyek patokan yang berpengaruh dalam bagaimana dan apa yang dapat mereka pelajari lebih banyak sesuai dengan perkembangan psikologi siswa (smaldino dari Dick,carey&carey,2001). Mendiagnosis kemampuan awal yang dimiliki peserta didik dapat memudahkan dalam merancang suatu pembelajaran agar penyamapain materi pelajaran dapat diserap denagn optimal oleh peserta didik sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
c.       Learning Style (Gaya Belajar)
Gaya belajar yang dimiliki setiap pembelajar berbeda-beda dan mengantarkan peserta didik dalam pemaknaan pengetahuan termasuk di dalamnya interaksi dengan dan merespon dengan emosi ketertarikan terhadap pembelajaran.
Terdapat tiga macam gaya belajar yang dimiliki peserta didik, yaitu: 1) Gaya belajar visual (melihat) yaitu dengan lebih banyak melihat seperti membaca, 2) Gaya belajar audio (mendengarkan), yaitu belajar akan lebih bermakna oleh peserta didik jika pelajarannya tersebut didengarkan dengan serius, 3) Gaya belajar kinestetik (melakukan), yaitu pelajaran akan lebih mudah dipahami oleh peserta didik jika dia sudah mempraktekkan sendiri.

2. State Standards and Objectives (Menentukan standard dan tujuan)
Tahap selanjutnya dalam ASSURE model adalah merumuskan tujuan dan standar. Dengan demikian diharapkan peserta didik dapat memperoleh suatu kemampuan dan kompetensi tertentu dari pembelajaran. Dalam merumuskan tujuan dan standar pembelajaran perlu memperhatikan dasar dari strategi, media dan pemilihan media yang tepat.
a.       Pentingnya Merumuskan Tujuan dan Standar dalam Pembelajaran
Dengan merumuskan standar dan tujuan pembelajaran dapat mendapatkan penilaian yang akurat dari pembelajaran siswa. Dasar dalam penilaian pembelajaran ini menujukkan pengetahuan dan kompetensi seperti apa yang nantinya akan dikuasai oleh peserta didik. Selain itu juga menjadi dasar dalam pembelajaran siswa yang lebih bermakna. Sehingga sebelumnya peserta didik dapat mempersiapkan diri dalam partisipasi dan keaktifannya dalam pembelajaran. 
b.      Tujuan Pembelajaran yang Berbasis ABCD
Menurut Smaldino,dkk.,setiap rumusan tujuan pembelajaran ini haruslah lengkap. Kejelasan dan kelengkapan ini sangat membantu dalam menentukan model belajar, pemanfaatan media dan sumber belajar berikut asesmen dalam KBM. Rumusan klasik tujuan pembelajaran yang sejak dahulu sudah diterapkan adalah singkatan ABCD. Rumusan baku ABCD tadi dijabarkan sebagai berikut:
A = audience
Pebelajar atau peserta didik dengan segala karakterisktiknya. Siapa pun peserta didik, apa pun latar belakangnya, jenjang belajarnya, serta kemampuan prasyaratnya sebaiknya jelas dan rinci.
B = behavior
Perilaku belajar yang dikembangkan dalam pembelajaran. Perlaku belajar mewakili kompetensi, tercermin dalam penggunaan kata kerja. Kata kerja yang digunakan biasanya kata kerja yang terukur dan dapat diamati, misalnnya menjelaskan, menyusun, menarikan, menggunakan, dan seterusnya; dan dirumuskan secara utuh.
C = conditions
Situasi kondisi atau lingkungan yang memungkinkan bagi pebelajar dapat belajar dengan baik. Penggunaan media dan metode serta sumber belajar menjadi bagian dari kondisi belajar ini. Kondisi ini sebenarnya menunjuk pada istilah strategi pembelajaran tertentu yang diterapkan selama proses belajar mengajar berlangsung.
D = degree
Persyaratan khusus atau kriteria yang dirumuskan sebagai dibaku sebagai bukti bahwa pencapaian tujuan pembelajaran dan proses belajar berhasil. Kriteria ini dapat dinyatakan dalam presentase benar (%), menggunakan kata-kata seperti tepat/benar, waktu yang harus dipenuhi, kelengkapan persyaratan yang dianggap dapat mengukur pencapaian kompetensi.
 ABCD Objective Checklist
Siswa dapat mencapai suatu kompetensi tertentu dari suatu mata pelajaran berarti dia sudah mencapai degree dari tujuan pembelajaran, walaupun setiap siswa mencapainya dengan format yang berbeda. Objective checklist disini adalah berupa suatu angket tujuan pembelajaran yang mengandung ABCD beserta komponen-komponennya. Angket ABCD ini dapat diisi oleh guru/pendidik untuk mengetahui sejauh mana pembelajaran telah dibawa dan membawa pengaruh seperti apa kepada siswanya/pembelajar.Apabila nantinya checklist tersebut belum mengekomunikasikan akurasi dari pengetahuan dan kemampuan yang seharusnya dimiliki siswa, sebaiknya pemebalajaran perlu diperbaharui.
c.       Tujuan Pembelajaran dan Perbedaan Individu
Berkaitan dengan kemampuan individu dalam menuntaskan atau memahami sebuah materi yang diberikan. Individu yang tidak memiliki kesulitan belajar dengan yang memiliki kesulitan belajar pasti memiliki waktu ketuntasan terhadap materi yang berbeda. Untuk mengatasi hal tersebut, maka timbullah mastery learning (kecepatan dalam menuntaskan materi tergantung dengan kemampuan yang dimiliki tiap individu.

3.      Select Strategies, Technology, Media, and Materials (Memilih, Strategi, Teknologi, Media dan Bahan ajar)
Langkah selanjutnya dalam membuat pembelajaran yang efektif adalah mendukung pembelajaran dengan menggunakan teknologi dan media dalam sistematika pemilihan strategi, teknologi dan media dan bahan ajar.
a.       Memilih Strategi Pembelajaran
Pemilihan strategi pembelajarn disesuaikan dengan standard dan tujuan pembelajaran. Selain itu juga memperhatikan gaya belajar dan motivasi siswa yang nantinya dapat mendukung pembelajaran. Strategi pembelajaran dapat mengandung ARCS model(Smaldino dari Keller,1987). ARCS model dapat membantu strategi mana yang dapat membangun Attention (perhatian) siswa, pembelajaran berhubungan yang Relevant dengan keutuhan dan tujuan, Convident , desain pembelajaran dapat membantu pemaknaan pengetahuan oleh siswa dan Satisfaction dari usaha belajar siswa.
Strategi pembelajaran dapat terlebih dahulu menentukan metode yang tepat. Saat ini, beberapa metode belajar yang dianggap inovatif terhadap perkembangan kemampuan kognitif dan kemandirian pebelajar. Beberapa metode yang dianjurkan untuk digunakan ialah (Dewi Salma Prawiradilaga, 2007):
1)        Belajar Berbasis Masalah (problem-based learning)
Metode ini mendorong pebelajar untuk memecahkan masalah dalam berbagai situasi. Metode belajar berbasis masalah melatih ketajaman pola pikir meta kognitif, yakni kemampuan stratregis dalam memecahkan masalah.
2)        Belajar Proyek (project-based learning)
Belajar proyek adalah metode yang melatih kemampuan pebelajar untuk melaksanakan suatu kegiatan di lapangan. Proyek yang dikembangkan dapat pekerjaan atau kegiatan sebenarnya atau berupa simulasi kegiatan.
3)        Belajar Kolaboratif
Metode belajar kolaboratif ditekankan agar pebelajar mampu berlatih menjadi pimpinan dan membina koordinasi antar teman sekelasnya. Tim yang berprestasi tinggi adalah tim yang mendapat dukungan dan upaya bersama dari anggotanya.

b.      Memilih Teknologi dan Media yang sesuai denagn Bahan ajar
Memilih format media dan sumber belajar yang disesuaikan dengan pokok bahasan atau topik.
Peran media pembelajaran menurut Smaldino dalam Prawiradilaga, diantaranya:
1)        Diatur Pengajar (instructor-directed)
Media pembelajaran yang difungsikan oleh pengajar dan menjadi bagian dari penyajian materi yang disajikan oleh pengajar tersebut.
2)        Diatur Peserta Didik (learner-directed)
Media pembelajaran yang difungsikan oleh peserta didik itu sendiri karena ia merasa bahwa ia ingin terlibat langsung dalam kegiatan belajarnya. Sarana laboraturium, modul, CAI adalah media pembelajaran yang memang khusus pemanfaatannya diatur oleh peserta didik.
3)        Belajar Jarak Jauh (distance education)
Belajar jarak jauh memerlukan sarana telekomunikasi yang memadai, baik untuk interaksi yang bersifat sinkron atau asinkron.

4. Utilize Technology, Media and Materials (Memanfaatkan Teknologi, media dan Bahan ajar)
Langkah selanjutnya dalam ASSURE model adalah memanfaatkan teknologi,media dan bahan ajar. Sebelum memanfaatkan media dan bahan yang ada, sebaiknya  mengikuti langkah-langkah seperti dibawah ini,yaitu:
a).     mengecek bahan (masih layak pakai atau tidak)
b).    mempersiapkan bahan
c).    mempersiapkan lingkungan belajar
d).    mempersiapkan pembelajar

5. Require Learner Parcipation (Menegmbangkan Peran Serta Peserta Didik)
Dalam mengaktifkan pembelajar di dalam proses pembelajaran sebaiknya memperhatikan keadaan psikologisnya. Gambaran psikologis dari siswa adalah sbb:
a. behavioris, karena tanggapan/respon yang sesuai dari pengajar dapat menguatkan stimulus yang ditampakkan pembelajar.
b.  kognitifis, karena informasi yang diterima pembelajar dapat memperkaya skema mentalnya.
c. konstruktivis, karena pengetahuan yang diterima pembelajar akan lebih berarti dan bertahan lama di kepala jika mereka mengalami langsung setiap aktivitas dalam proses pembelajaran.
d.    sosial, karena feedback atau tanggapan yang diberikan pengajar atau teman dalam proses pembelajaran dapat dijadikan sebagai ajang untuk mengoreksi segala informasi yang telah diterima dan juga sebagai support secara emosional.

6. Evaluate and Revise (Mengevaluasi dan Memperbaiki)
Tahapan terakhir dalam ASSURE model untuk pembelajaran yang efektif adalah menilai dan memperbaiki. Penilaian dan perbaikan adalah aspek yang sangat mendasar untuk mengembangkan kualitas pembelajaran. Penilaian dan perbaikan dapat berdasarkan dua tahapan yaitu;
a). Penilaian Hasil Belajar Siswa, penilaian ini mencakup hasil belajar siswa yang otentik, hasil belajar portofolio dan hasil belajar yang tradisional / elektronik.
b). Menilai dan Memperbaiki Strategi, teknologi dan Media

B.     Manfaat ASSURE model dalam Pembelajaran
Model ASSURE dicetuskan oleh Heinich, dkk. Sejak tahun 1980-an, dan terus dikembangkan oleh Smaldino, dkk. Hingga sekarang (Dewi Salma Prawiradilaga, 2007). Satu hal yang perlu dicermati dari model ASSURE ini, walaupun berorientasi pada Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), model ini tidak menyebutkan strategi pembelajaran secara eksplisit. Strategi pembelajaran dikembangkan melalui pemilihan dan pemanfaatan metode, media, bahan ajar, serta peran serta peserta didik di kelas.
Manfaat dari model ASSURE, yaitu (Dewi Salma Prawiradilaga, 2007) :
1.      Sederhana, relatif mudah untuk diterapkan.
2.      Karena sederhana, maka dapat dikembangkan sendiri oleh pengajar.
3.      Komponen KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) lengkap.
4.      Peserta didik dapat dilibatkan dalam persiapan untuk KBM.


BAB III
RANCANGAN MEDIA PEMBELAJARAN DENGAN MODEL ASSURE

A.    Rancangan media dalam pembelajaran Kewarganegaraan
Seperti telah dikemukakan sebelumnya bahwa media adalah pengantar dalam pembelajaran. Dengan adanya media akan membantu kegiatan pembelajaran. Seiring dengan yang telah dikemukakan Smaldino, bahwa media bertujuan untuk memudahkan komunikasi dan belajar.
Kewarganegaraan adalah salah satu mata pelajaran wajib bagi setiap siswa di sekolah. Salah satu kompetensi yang diharapkan adalah bahwa kewarganegaraan bertujuan menanamkan cinta tanah air. Makanya untuk menciptakan belajar bermakna bagi siswa, maka pembelajaran harus didukung dengan media yang menunjang pembelajaran.
Media yang tepat pada pembelajaran Kewarganegaraan sesuai degan topik pesrsengketaan internasioanl adalah media video. Video digunakan pada topik ini karena pemelajar bisa menyaksikan secara langsung apa yang dimaksud sengketa internasional sehingga akan lebih mudah paham dengan materi yang diberikan.
Video adalah salah satu bentuk media yang bisa menunjang pembelajaran. Sesuai dengan tahap dalam Assure maka penggunaan media video adalah sebagai berikut:
1.      Analisis pemelajar
Karakteristik dari pemelajar Kewarganegaraan ini adaah bahwa mereka sebelumnya sudah mengetahui materi yang akan dipelajari. Dengan menganalisis pemelajar, maka kita akan mengetahui apa kebutuhan untuk kegiatan pembelajaran.
2.      Menentukan standar dan tujuan
Sebelum kegiatan pembelajaran, maka kita harus menetukan standar dan tujuan mata pelajaran ini. Kewarganegaraan ini mempunyai stndar bahwa setiapsiswa memahami konsep tentang kewarganegaraan, sehinggan timbul rasa cinta terhadap negara. Sedangkan tujuan akhir dari siswa bisa mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
3.      Memilih strategi, teknologi, media dan materi
Banyak teknologi dan media yang bisa digunakan untukkegiatan pembelajaran Kewarganegaraan, salah satunya media video, dengan media video pemelajar mampu melihat secara langsung kondisi negara Indonesia pada khususnya dan dunia pada umumnya.
4.      Mengharuskan partisipasi pebelajar
Dengan kegiatan pembelajaran yang dibantu oleh teknologi dan media menuntut pemelajar ikut berpartisipasiaktif dalam kegiatan oembelajaran, sehingga mereka bisa mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
5.      Mengevaluasi dan merevisi
Evaluasi adalah suatu hal yang harus dilakukan. Baik kita sebagai guru yang merancang pembelajaran atau evaluasi untuk pemelajar itu sendiri, dalam rangka melihat ketercapaian pemelajar dalam kegiatan pembelajaran.

B.     Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan media yang telah dirancang
I.       IDENTITAS
Nama Sekolah       :     MA Perguruan Islam Ar Risalah
Mata Pelajaran      :     PKn
Materi Pokok        :     Peran Mahkamah Internasional dalam Menyelesaikan
                                    Sengketa Internasional
Kelas/Program       :     XI/2
Alokasi Waktu      :     2 x 45 Menit

II.     STANDAR KOMPETENSI/KOMPETENSI DASAR
1.   Standar Kompetensi
            5. Menganalisis sistem hukum dan peradilan internasional

2.   Kompetensi Dasar
5.2. Menjelaskan penyebab timbulnya sengketa internasional dan cara penyelesaian oleh Mahkamah Internasional










III.    INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI
No
Indikator Pencapaian Kompetensi
Nilai Budaya Dan Karakter Bangsa
1
Mengidentifikasi penyebab timbulnya sengketa internasional
Religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab
Mandiri
2
Menguraikan cara penyelesaian sengketa internasional oleh Mahkamah internasional


IV. TUJUAN PEMBELAJARAN  :
Tujuan pokok pembelajaran adalah agar siswa mampu dan dapat :
·   Mengidentifikasi penyebab timbulnya sengketa internasional
·   Menguraikan cara penyelesaian sengketa internasional oleh Mahkamah internasional


V.     STRATEGI PEMBELAJARAN         
No.
Kegiatan Belajar
Waktu (Menit)
Aspek lifeskill yang dikembangkan
Nilai Budaya Dan Karakter Bangsa
1.
Pendahuluan
-      Memberikan salam siswa
-      Mengabsen dan mengetahui kondisi siswa
15’
-        Disiplin
-        Kerjasama
-        Keterampilan
Religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab
Mandiri
2.
Kegiatan Inti
& Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi :
F Menguraikan tujuan dan nilai konstitusi.
F menjelaskan pengertian dasar negara dan konstitusi negara.
& Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi,
F Dipertontoknan video singkat tentang beberapa contoh sengketa internasional
F Membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil @ 4 orang, dinamakan kelompok kooperatif.
F Guru menyampaikan tugas-tugas yang harus dikerjakan masing-masing anggota kelompok kooperatif, yang terdiri atas : 
Peran Mahkamah Internasional dalam Menyelesaikan Sengketa
Jika jumlah siswa 40 orang, berarti terdapat 10 kelompok. Jadi terdapat kelompok yang membahas materi sama.
F Setelah selesai melakukan diskusi dalam kelompok kecil, setiap anggota kelompok mengambil undian tugas secara indivual yang telah disediakan oleh guru. Undian berisi materi-materi yang telah didiskusikan.
F Siswa diminta menemui teman lain yang mempunyai tugas sama untuk membentuk kelompok baru dan mengerjakan tugas yang ia terima. Anggota kelompok baru tersebut kemungkinan besar terdiri atas siswa yang dalam kelompok kecil membahas materi berbeda. Jadi anggota kelompok baru jumlahnya lebih banyak dan berisi siswa dari kelompok yang membahas materi berbeda dan dinamakan kelompok ahli.
F Setiap anggota kelompok baru bertindak sebagai ahli yang harus mencatat, ikut serta secara aktif memberikan informasi dan berdiskusi.
F Kelompok ahli kembali berkumpul ke kelompok kooperatif semula, bertugas memberikan informasi dari hasil diskusi kelompok ahli.
F Meminta perwakilan kelompok kooperatif untuk mempresentasikan hasil diskusi secara menyeluruh dalam diskusi kelas dan mengambil kesimpulan.
F Guru memfasilitasi jika terdapat siswa atau kelompok yang mengalami kesulitan dan memberikan klarifikasi jika terjadi kesalahan konsep.
& Konfirmasi
Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:
F Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui
F Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui.
55’
-        Kerjasama
-        Kesungguhan
-        Disiplin
-        Uji diri
3.
Penutup
-  Evaluasi / Tanya jawab
-  Penenangan
20’
-        Pengendalian diri


STRATEGI PEMBELAJARAN
Tatap Muka
Terstruktur
Mandiri
·         Menjelaskan penyebab timbulnya sengketa internasional dan cara penyelesaian oleh Mahkamah Internasional
·         Memberikan contoh penyebab timbulnya sengketa internasional dan cara penyelesaian oleh Mahkamah Internasional
·         Siswa dapat Menguraikan cara penyelesaian sengketa internasional oleh Mahkamah internasional

VI.    PERANGKAT PEMBELAJARAN
1.      Buku Paket PKn Kelas XI
2.      UUD 1945 yang Telah Diamandemen
3.      Buku-Buku Sumber yang Relevan
4.      Lembar Kerja Siswa
5.      Majalah, Koran, dan Internet
6.      Komputer/laptop
7.      Televisi

VII.  PENILAIAN DAN TINDAK LANJUT
§  Penilaian Kognitif
§  Penilaian Afektif











DAFTAR PUSTAKA

Ratna Wilis Dahar. 2011. Teori-teori Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Erlangga
Smaldino, Sharon E, dkk. 2007. Instructional Technology And Media For Learning Ninth edition. New Jersey Columbus, Ohio: PEARSON Merrill Prentice Hall


Tidak ada komentar:

Posting Komentar